10 Ramadhan 1447 H | Jumat, 27 Februari 2026
×
"Golkar Riau, Hegemoni atau Rekonsiliasi "
opini | Senin, 2 Juni 2025 | 16:41:10 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Rahmadia
SF Haryanto - Parisman Ihwan dalam sebuah kesempatan

DI BALIK perebutan kursi Ketua Golkar Riau, terdapat dinamika politik yang mencerminkan lebih dari sekadar ambisi personal. 

Ini adalah soal hegemoni, rekonsiliasi elit, dan masa depan stabilitas politik di Bumi Lancang Kuning. 

Dua nama mengemuka, SF Hariyanto, Wakil Gubernur Riau yang merepresentasikan gerbong Rusli Zainal, dan Parisman Ikhwan, Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau dari gerbong Syamsuar. 

Keduanya adalah simbol dari dua matahari Golkar Riau yang selama ini berotasi dalam orbitnya masing-masing.

Narasi di permukaan tampak seperti kontestasi elite biasa. Namun, jika dicermati lebih dalam, ini adalah duel antara dua gerbong besar yang telah menjadi tulang punggung kekuasaan Golkar di Riau. 

Gerbong Rusli Zainal, dengan jaringan akar rumput dan loyalis lama, kini mendapat semangat baru melalui SF Hariyanto.

Di sisi lain, gerbong Syamsuar dengan Parisman Ikhwan sebagai garda depan membawa nafas kekuasaan yang masih segar, menyimpan kapital elektoral dan struktural yang luas.

Jika keduanya bersatu, bukan tidak mungkin Golkar Riau akan kembali pada kejayaan sebagai penguasa Riau. Tetapi seperti biasa, persoalannya bukan sekadar kekuatan, melainkan siapa yang mau menundukkan ego terlebih dahulu.

Skenario kompromi tampaknya sederhana namun sangat strategis dan harusnya menjadi pilihan lain dari scenario pertikaian. SF Hariyanto bisa diplot sebagai ketua DPD Golkar Riau, membawa legitimasi dari posisi strukturalnya di eksekutif sebagai Wakil Gubernur. 

Parisman Ikhwan diplot sebagai Sekretaris yang akan mengokohkan kontrol legislatif. Ini bukan pembagian jabatan semata, tetapi penggabungan dua jalur kekuasaan, eksekutif dan legislatif.

Jika ini terjadi, Golkar tidak hanya akan mempertahankan statusnya sebagai partai penguasa  Riau, tetapi dengan tegas menyatakan, siapun yang menang di Riau, Golkar lah pemenangnya.

Pembagian teritorial kekuasaan bisa berjalan simetris antara gerbong Rusli Zainal menjaga basis di Riau 2, sementara gerbong Syamsuar meneguhkan dominasi di Riau 1, yang merupakan kantong suara strategis. 

Dengan jalan kompromi, maka peluang Golkar menjadi lebih besar makin terbuka.

Politik tak semudah itu Ferguso??! Memang tak mudah menyatukan dua kutub yang berseberangan, tetapi dalam politik menganut Teori “tidak ada yang tidak mungkin”.

Meminjam teori Antonio Gramsci, dalam politik, pertarungan antar elit bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling mampu membangun konsensus. 

Karena dalam banyak peristiwa, kekuasaan yang bertahan lama bukan didirikan diatas dominasi, melainkan diatas kesepahaman bersama.

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid?

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid? Banyak yang melihat SF Hariyanto sebagai potensi ancaman, apalagi jika menguasai Golkar. 

Tanpa dan dengan Golkar, SF Hariyanto adalah ancaman tersendiri bagi Gubernur berkuasa, dengan melihat sejarah Riau sendiri pasca pemilihan langsung pertikaian Gubernur dan Wakil Gubernur kerap terjadi dan hampir tak ada yang bisa sejalan hingga ke ujung. 

Namun dalam logika politik Indonesia yang pragmatis, ancaman bisa dihaluskan dengan keterlibatan. 

SF Hariyanto bukan aktor baru dalam orbit Abdul Wahid. Bahkan, ada irisan politik dan history diantara keduanya. 

Istri SF Hariyanto, Adrias, adalah kader PKB yang juga anggota DPRD Riau, yang bisa menjadi kunci dan penghubung mencairkan kebuntuan. 

Maka daripada menghabiskan energi untuk konflik, akan lebih rasional bila SF diberi “mainan politik” yang justru membuatnya sibuk dalam koridor partai. Dan setiap tindakannya ada Partai sebagai corong dan ruang yang masih bisa dinegoisasikan.

Pertarungan ini bukan hanya soal Ketua Golkar Riau. Ini adalah persoalan tentang stabilitas pemerintahan daerah dan keberlangsungan program pembangunan di tengah defisit anggaran dan penghematan pemerintah pusat. 

Kita tidak bisa menutup mata bahwa politik adalah mesin mahal. Dan ketika elit politik Riau memilih untuk berperang, maka biaya itu akan ditransfer secara tak langsung kepada publik melalui stagnasi pembangunan, lewat APBD yang tersandera tarik-menarik kepentingan.

Disamping itu, Jakarta sebagai pemilik hegemoni daerah justru semakin senang dengan sengitnya pertarungan perebutan Ketua Golkar, semakin sengit berarti didalam nya ada “duit”. 

Dalam filsafat Sun Tzu, “kemenangan tertinggi adalah menang tanpa bertempur”. Ini yang seharusnya dituju oleh para elite di Riau. Bersatu dalam keragaman gerbong, dan menyatukan kekuatan demi stabilitas. 

Rekonsiliasi ini bukan hanya urusan elit, tapi menyangkut nasib jutaan masyarakat Riau.

Jika SF Hariyanto dan Parisman Ikhwan bisa menundukkan ego, jika Abdul Wahid mau membuka kanal komunikasi lebih inklusif, dan jika Golkar mampu tampil sebagai jembatan, maka Riau tidak hanya akan tenang secara politik, tapi akan menjadi model rekonsiliasi politik yang harus mendapat tempat dan hormat. Roda pemerintahan dan pembangunan pun akan berjalan jauh lebih baik. 

Politik dan ekonomi adalah dua sisi dari realitas social yang saling mempengaruhi, APBD yang stagnan dan elite yang terpecah adalah hambatan ganda bagi Pembangunan Riau. 

Pekanbaru, 1 Juni 2025
Penulis: Ricky Rahmadia
Penggiat Diskusi Publik di Riau

Index
Tebar Keberkahan RamadHan, Kilang Pertamina Dumai Salurkan Sembako di Pondok Pesantren dan Panti Asuhan
Konsisten Melayani Sepenuh Hati, Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Raih Penghargaan Kelas Dunia
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Bersama Pemkot Banda Aceh Lakukan Pengawasan Takaran BBM dan LPG Jelang Idul Fitri
Tiga Anggota TPP Labrak Aturan dan Arahan KONI Pusat, Fahmi: Tindakan Mereka Ilegal!!!
Pengucuran Kredit Bank BRI Ke Kelompok Tani di Pelalawan Sarat Kejanggalan
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Perkuat Pelayanan Konsumen SPBU Selama Ramadhan 1447 H
Jaring Aspirasi Warga RW 11, Hamdani Diminta Perjuangkan Pencegahan Banjir di Jalan Puyuh Mas
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Pastikan Tidak Ada Korban dan Dampak Lingkungan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Proyeksikan Kebutuhan LPG Hingga 3,8 Persen
Sambut Ramadhan 1447H, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Salurkan Santunan bagi Anak Yatim
Snow Snow
Snow Snow


daerah
Pimpin Konsolidasi Perdana DPP IPP, Muflihun Tegaskan Komitmen dan Program Strategis untuk Pekanbaru
Kukuhkan Muflihun Sebagai Ketua Umum, Plt Gubri Tegaskan Ikatan Putera Pekanbaru Mitra Strategis Pembangunan
Kenduri Anak Pekan Meriahkan Pelantikan IPP 2025–2030, Hadirkan Ragam Budaya dan Hiburan Gratis untuk Warga Pekanbaru
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Ahmadison Terpilih Secara Aklamasi Dalam Musda IJTI Riau
Sabtu, 17 Januari 2026 | 16:18:14 WIB
Index
Pimpin Konsolidasi Perdana DPP IPP, Muflihun Tegaskan Komitmen dan Program Strategis untuk Pekanbaru
Remaja Bernegara NasDem 2026 Dibuka, Latih Jiwa Kepemimpinan Generasi Muda 
Sambut Bulan K3 2026, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Budaya HSSE dan Zero Accident
Pertamina dan SERUNI Serahkan Bantuan Sarana Air Bersih dan 1.577 Tabung Bright Gas bagi Warga Pidie Jaya
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Bekali UMKM Binaan dengan Pelatihan Fotografi Produk
Membludak! 389 Remaja Daftarkan Diri Ikut Remaja Bernegara Provinsi Riau, 6 Dari Luar Riau.
Kukuhkan Muflihun Sebagai Ketua Umum, Plt Gubri Tegaskan Ikatan Putera Pekanbaru Mitra Strategis Pembangunan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Pengamanan Obvitnas dan Jalur Pipa di Fuel Terminal Medan
Kenduri Anak Pekan Meriahkan Pelantikan IPP 2025–2030, Hadirkan Ragam Budaya dan Hiburan Gratis untuk Warga Pekanbaru
Apresiasi Ojol hingga Promo Hemat bagi Konsumen, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Hadirkan Ragam Program MyPertamina 2026
Politik
Jaring Aspirasi Warga RW 11, Hamdani Diminta Perjuangkan Pencegahan Banjir di Jalan Puyuh Mas
Remaja Bernegara NasDem 2026 Dibuka, Latih Jiwa Kepemimpinan Generasi Muda 
Membludak! 389 Remaja Daftarkan Diri Ikut Remaja Bernegara Provinsi Riau, 6 Dari Luar Riau.
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Tebar Keberkahan RamadHan, Kilang Pertamina Dumai Salurkan Sembako di Pondok Pesantren dan Panti Asuhan
Konsisten Melayani Sepenuh Hati, Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Raih Penghargaan Kelas Dunia
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Bersama Pemkot Banda Aceh Lakukan Pengawasan Takaran BBM dan LPG Jelang Idul Fitri
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Perkuat Pelayanan Konsumen SPBU Selama Ramadhan 1447 H
Hukum
Pengucuran Kredit Bank BRI Ke Kelompok Tani di Pelalawan Sarat Kejanggalan
PKS PAS Sitaan Satgas PKH Dijual, APHI Desak Kejagung Usut dan Tangkap Djohor Judin
Desak Usut Febrie Adryansah, Massa Serikat Pemuda Kerakyatan Geruduk Gedung Merah Putih
Peradilan Aneh di PN Pekanbaru, Perusahaan Legal Dituduh Penyidik Lakukan Tindakan Ilegal
Nasional
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional

Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR 
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 

internasional
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
olahraga
Tiga Anggota TPP Labrak Aturan dan Arahan KONI Pusat, Fahmi: Tindakan Mereka Ilegal!!!
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain
PSPS Akan DIlatih Caretaker, Sampai Pengganti Ilham Datang

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
"Golkar Riau, Hegemoni atau Rekonsiliasi "
opini | Senin, 2 Juni 2025 | 16:41:10 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Rahmadia
SF Haryanto - Parisman Ihwan dalam sebuah kesempatan

DI BALIK perebutan kursi Ketua Golkar Riau, terdapat dinamika politik yang mencerminkan lebih dari sekadar ambisi personal. 

Ini adalah soal hegemoni, rekonsiliasi elit, dan masa depan stabilitas politik di Bumi Lancang Kuning. 

Dua nama mengemuka, SF Hariyanto, Wakil Gubernur Riau yang merepresentasikan gerbong Rusli Zainal, dan Parisman Ikhwan, Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau dari gerbong Syamsuar. 

Keduanya adalah simbol dari dua matahari Golkar Riau yang selama ini berotasi dalam orbitnya masing-masing.

Narasi di permukaan tampak seperti kontestasi elite biasa. Namun, jika dicermati lebih dalam, ini adalah duel antara dua gerbong besar yang telah menjadi tulang punggung kekuasaan Golkar di Riau. 

Gerbong Rusli Zainal, dengan jaringan akar rumput dan loyalis lama, kini mendapat semangat baru melalui SF Hariyanto.

Di sisi lain, gerbong Syamsuar dengan Parisman Ikhwan sebagai garda depan membawa nafas kekuasaan yang masih segar, menyimpan kapital elektoral dan struktural yang luas.

Jika keduanya bersatu, bukan tidak mungkin Golkar Riau akan kembali pada kejayaan sebagai penguasa Riau. Tetapi seperti biasa, persoalannya bukan sekadar kekuatan, melainkan siapa yang mau menundukkan ego terlebih dahulu.

Skenario kompromi tampaknya sederhana namun sangat strategis dan harusnya menjadi pilihan lain dari scenario pertikaian. SF Hariyanto bisa diplot sebagai ketua DPD Golkar Riau, membawa legitimasi dari posisi strukturalnya di eksekutif sebagai Wakil Gubernur. 

Parisman Ikhwan diplot sebagai Sekretaris yang akan mengokohkan kontrol legislatif. Ini bukan pembagian jabatan semata, tetapi penggabungan dua jalur kekuasaan, eksekutif dan legislatif.

Jika ini terjadi, Golkar tidak hanya akan mempertahankan statusnya sebagai partai penguasa  Riau, tetapi dengan tegas menyatakan, siapun yang menang di Riau, Golkar lah pemenangnya.

Pembagian teritorial kekuasaan bisa berjalan simetris antara gerbong Rusli Zainal menjaga basis di Riau 2, sementara gerbong Syamsuar meneguhkan dominasi di Riau 1, yang merupakan kantong suara strategis. 

Dengan jalan kompromi, maka peluang Golkar menjadi lebih besar makin terbuka.

Politik tak semudah itu Ferguso??! Memang tak mudah menyatukan dua kutub yang berseberangan, tetapi dalam politik menganut Teori “tidak ada yang tidak mungkin”.

Meminjam teori Antonio Gramsci, dalam politik, pertarungan antar elit bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling mampu membangun konsensus. 

Karena dalam banyak peristiwa, kekuasaan yang bertahan lama bukan didirikan diatas dominasi, melainkan diatas kesepahaman bersama.

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid?

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid? Banyak yang melihat SF Hariyanto sebagai potensi ancaman, apalagi jika menguasai Golkar. 

Tanpa dan dengan Golkar, SF Hariyanto adalah ancaman tersendiri bagi Gubernur berkuasa, dengan melihat sejarah Riau sendiri pasca pemilihan langsung pertikaian Gubernur dan Wakil Gubernur kerap terjadi dan hampir tak ada yang bisa sejalan hingga ke ujung. 

Namun dalam logika politik Indonesia yang pragmatis, ancaman bisa dihaluskan dengan keterlibatan. 

SF Hariyanto bukan aktor baru dalam orbit Abdul Wahid. Bahkan, ada irisan politik dan history diantara keduanya. 

Istri SF Hariyanto, Adrias, adalah kader PKB yang juga anggota DPRD Riau, yang bisa menjadi kunci dan penghubung mencairkan kebuntuan. 

Maka daripada menghabiskan energi untuk konflik, akan lebih rasional bila SF diberi “mainan politik” yang justru membuatnya sibuk dalam koridor partai. Dan setiap tindakannya ada Partai sebagai corong dan ruang yang masih bisa dinegoisasikan.

Pertarungan ini bukan hanya soal Ketua Golkar Riau. Ini adalah persoalan tentang stabilitas pemerintahan daerah dan keberlangsungan program pembangunan di tengah defisit anggaran dan penghematan pemerintah pusat. 

Kita tidak bisa menutup mata bahwa politik adalah mesin mahal. Dan ketika elit politik Riau memilih untuk berperang, maka biaya itu akan ditransfer secara tak langsung kepada publik melalui stagnasi pembangunan, lewat APBD yang tersandera tarik-menarik kepentingan.

Disamping itu, Jakarta sebagai pemilik hegemoni daerah justru semakin senang dengan sengitnya pertarungan perebutan Ketua Golkar, semakin sengit berarti didalam nya ada “duit”. 

Dalam filsafat Sun Tzu, “kemenangan tertinggi adalah menang tanpa bertempur”. Ini yang seharusnya dituju oleh para elite di Riau. Bersatu dalam keragaman gerbong, dan menyatukan kekuatan demi stabilitas. 

Rekonsiliasi ini bukan hanya urusan elit, tapi menyangkut nasib jutaan masyarakat Riau.

Jika SF Hariyanto dan Parisman Ikhwan bisa menundukkan ego, jika Abdul Wahid mau membuka kanal komunikasi lebih inklusif, dan jika Golkar mampu tampil sebagai jembatan, maka Riau tidak hanya akan tenang secara politik, tapi akan menjadi model rekonsiliasi politik yang harus mendapat tempat dan hormat. Roda pemerintahan dan pembangunan pun akan berjalan jauh lebih baik. 

Politik dan ekonomi adalah dua sisi dari realitas social yang saling mempengaruhi, APBD yang stagnan dan elite yang terpecah adalah hambatan ganda bagi Pembangunan Riau. 

Pekanbaru, 1 Juni 2025
Penulis: Ricky Rahmadia
Penggiat Diskusi Publik di Riau

TERKINI
Momentum awal Ramadhan 1447 Hijriah, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai (Kilang Pertamina.
Jumat, 27 Februari 2026 | 09:45:09 WIB
Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru sebagai salah satu bandara di bawah naungan PT Angkasa.
Jumat, 27 Februari 2026 | 01:16:53 WIB
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) bersama Pemerintah Kota Banda.
Jumat, 27 Februari 2026 | 01:02:11 WIB
Dijelaskan Fahmi, ada 3 KONI Kabupaten Kota yang memberikan dukungan ganda, diantaranya, KONI.
Kamis, 26 Februari 2026 | 14:05:07 WIB