29 Zulhijjah 1447 H | Senin, 15 Juni 2026
×
"Golkar Riau, Hegemoni atau Rekonsiliasi "
opini | Senin, 2 Juni 2025 | 16:41:10 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Rahmadia
SF Haryanto - Parisman Ihwan dalam sebuah kesempatan

DI BALIK perebutan kursi Ketua Golkar Riau, terdapat dinamika politik yang mencerminkan lebih dari sekadar ambisi personal. 

Ini adalah soal hegemoni, rekonsiliasi elit, dan masa depan stabilitas politik di Bumi Lancang Kuning. 

Dua nama mengemuka, SF Hariyanto, Wakil Gubernur Riau yang merepresentasikan gerbong Rusli Zainal, dan Parisman Ikhwan, Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau dari gerbong Syamsuar. 

Keduanya adalah simbol dari dua matahari Golkar Riau yang selama ini berotasi dalam orbitnya masing-masing.

Narasi di permukaan tampak seperti kontestasi elite biasa. Namun, jika dicermati lebih dalam, ini adalah duel antara dua gerbong besar yang telah menjadi tulang punggung kekuasaan Golkar di Riau. 

Gerbong Rusli Zainal, dengan jaringan akar rumput dan loyalis lama, kini mendapat semangat baru melalui SF Hariyanto.

Di sisi lain, gerbong Syamsuar dengan Parisman Ikhwan sebagai garda depan membawa nafas kekuasaan yang masih segar, menyimpan kapital elektoral dan struktural yang luas.

Jika keduanya bersatu, bukan tidak mungkin Golkar Riau akan kembali pada kejayaan sebagai penguasa Riau. Tetapi seperti biasa, persoalannya bukan sekadar kekuatan, melainkan siapa yang mau menundukkan ego terlebih dahulu.

Skenario kompromi tampaknya sederhana namun sangat strategis dan harusnya menjadi pilihan lain dari scenario pertikaian. SF Hariyanto bisa diplot sebagai ketua DPD Golkar Riau, membawa legitimasi dari posisi strukturalnya di eksekutif sebagai Wakil Gubernur. 

Parisman Ikhwan diplot sebagai Sekretaris yang akan mengokohkan kontrol legislatif. Ini bukan pembagian jabatan semata, tetapi penggabungan dua jalur kekuasaan, eksekutif dan legislatif.

Jika ini terjadi, Golkar tidak hanya akan mempertahankan statusnya sebagai partai penguasa  Riau, tetapi dengan tegas menyatakan, siapun yang menang di Riau, Golkar lah pemenangnya.

Pembagian teritorial kekuasaan bisa berjalan simetris antara gerbong Rusli Zainal menjaga basis di Riau 2, sementara gerbong Syamsuar meneguhkan dominasi di Riau 1, yang merupakan kantong suara strategis. 

Dengan jalan kompromi, maka peluang Golkar menjadi lebih besar makin terbuka.

Politik tak semudah itu Ferguso??! Memang tak mudah menyatukan dua kutub yang berseberangan, tetapi dalam politik menganut Teori “tidak ada yang tidak mungkin”.

Meminjam teori Antonio Gramsci, dalam politik, pertarungan antar elit bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling mampu membangun konsensus. 

Karena dalam banyak peristiwa, kekuasaan yang bertahan lama bukan didirikan diatas dominasi, melainkan diatas kesepahaman bersama.

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid?

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid? Banyak yang melihat SF Hariyanto sebagai potensi ancaman, apalagi jika menguasai Golkar. 

Tanpa dan dengan Golkar, SF Hariyanto adalah ancaman tersendiri bagi Gubernur berkuasa, dengan melihat sejarah Riau sendiri pasca pemilihan langsung pertikaian Gubernur dan Wakil Gubernur kerap terjadi dan hampir tak ada yang bisa sejalan hingga ke ujung. 

Namun dalam logika politik Indonesia yang pragmatis, ancaman bisa dihaluskan dengan keterlibatan. 

SF Hariyanto bukan aktor baru dalam orbit Abdul Wahid. Bahkan, ada irisan politik dan history diantara keduanya. 

Istri SF Hariyanto, Adrias, adalah kader PKB yang juga anggota DPRD Riau, yang bisa menjadi kunci dan penghubung mencairkan kebuntuan. 

Maka daripada menghabiskan energi untuk konflik, akan lebih rasional bila SF diberi “mainan politik” yang justru membuatnya sibuk dalam koridor partai. Dan setiap tindakannya ada Partai sebagai corong dan ruang yang masih bisa dinegoisasikan.

Pertarungan ini bukan hanya soal Ketua Golkar Riau. Ini adalah persoalan tentang stabilitas pemerintahan daerah dan keberlangsungan program pembangunan di tengah defisit anggaran dan penghematan pemerintah pusat. 

Kita tidak bisa menutup mata bahwa politik adalah mesin mahal. Dan ketika elit politik Riau memilih untuk berperang, maka biaya itu akan ditransfer secara tak langsung kepada publik melalui stagnasi pembangunan, lewat APBD yang tersandera tarik-menarik kepentingan.

Disamping itu, Jakarta sebagai pemilik hegemoni daerah justru semakin senang dengan sengitnya pertarungan perebutan Ketua Golkar, semakin sengit berarti didalam nya ada “duit”. 

Dalam filsafat Sun Tzu, “kemenangan tertinggi adalah menang tanpa bertempur”. Ini yang seharusnya dituju oleh para elite di Riau. Bersatu dalam keragaman gerbong, dan menyatukan kekuatan demi stabilitas. 

Rekonsiliasi ini bukan hanya urusan elit, tapi menyangkut nasib jutaan masyarakat Riau.

Jika SF Hariyanto dan Parisman Ikhwan bisa menundukkan ego, jika Abdul Wahid mau membuka kanal komunikasi lebih inklusif, dan jika Golkar mampu tampil sebagai jembatan, maka Riau tidak hanya akan tenang secara politik, tapi akan menjadi model rekonsiliasi politik yang harus mendapat tempat dan hormat. Roda pemerintahan dan pembangunan pun akan berjalan jauh lebih baik. 

Politik dan ekonomi adalah dua sisi dari realitas social yang saling mempengaruhi, APBD yang stagnan dan elite yang terpecah adalah hambatan ganda bagi Pembangunan Riau. 

Pekanbaru, 1 Juni 2025
Penulis: Ricky Rahmadia
Penggiat Diskusi Publik di Riau

Index
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Pastikan Penyaluran BBM di Wilayah Pekanbaru dan Sekitarnya Berjalan Optimal
Anggota DPRD Rohul Dari Gerindra Terang-terangan Tolak Dukung Program Ketua Umum Gerindra
 Masyarakat Kepulauan Meranti Diimbau Gunakan Energi Secara Bijak
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Borong 12 PROPER Hijau
Dorong Kemandirian Ekonomi Warga, Pertamina Patra Niaga Sumbagut Hadirkan Foodcourt UMKM di Aceh Besar
Berkat Inovasi dan Konsistensi Penjagaan Mutu, Kilang Dumai Borong Penghargaan Laboratory Awards 2025 
Kolaborasi dengan BKKBN, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Dukung Pembangunan Keluarga dan Kesejahteraan Pekerja
Tetap Utamakan Kualitas, Produk Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Lolos Quality Control Laboratory
Senantiasa Terapkan Budaya K3, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Pastikan Operasional Pasca Lebaran Aman
1 April 2026, Ternyata Tidak Ada Perubahan Harga BBM di SPBU Pertamina
Snow Snow
Snow Snow


daerah
Perpustakaan Soeman HS Masih Menjadi Pilihan Favorit Mahasiswa Selama Ramadhan
Pimpin Konsolidasi Perdana DPP IPP, Muflihun Tegaskan Komitmen dan Program Strategis untuk Pekanbaru
Kukuhkan Muflihun Sebagai Ketua Umum, Plt Gubri Tegaskan Ikatan Putera Pekanbaru Mitra Strategis Pembangunan
Kenduri Anak Pekan Meriahkan Pelantikan IPP 2025–2030, Hadirkan Ragam Budaya dan Hiburan Gratis untuk Warga Pekanbaru
Index
Pertamina Patra Niaga Kilang Produksi Pakning Pastikan Operasional Tetap Optimal
Warga Terdampak Kebakaran di Pasar Lama Bagi Pertamina Patra Niaga Kilang Produksi Pakning
Dorong Penggunaan Lebih Bijak, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Keandalan Distribusi Energi
Peringati Earth Hour 2026, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai Hemat Energi dan Tekan Emisi
Hadapi Arus Balik, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Perkuat Layanan dan Ketersediaan Energi
Staf Khusus Menteri ESDM Pastikan Kesiapan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Layanan Energi
Tetap Siaga di Hari Raya, Tim Fire Brigade Pertamina RU II Dumai Berjibaku Padamkan Karhutla
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Jaga Layanan Energi, Operator SPBU Tetap Bertugas di Hari Raya
Perwira Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Siaga 24 Jam, Jaga Penyaluran Energi Tanpa Henti
Sinergi Hadapi Karhutla, Pertamina RU II Dumai Hibahkan Nozzle Gambut ke Polres
Politik
Jaring Aspirasi Warga RW 11, Hamdani Diminta Perjuangkan Pencegahan Banjir di Jalan Puyuh Mas
Remaja Bernegara NasDem 2026 Dibuka, Latih Jiwa Kepemimpinan Generasi Muda 
Membludak! 389 Remaja Daftarkan Diri Ikut Remaja Bernegara Provinsi Riau, 6 Dari Luar Riau.
Ahmad Doli Kurnia Figur Tepat Menjadi PLT Ketua DPD I Partai Golkar Riau
Snow Snow
Snow Snow


ekonomi
Pertamina Patra Niaga Sumbagut Pastikan Penyaluran BBM di Wilayah Pekanbaru dan Sekitarnya Berjalan Optimal
Anggota DPRD Rohul Dari Gerindra Terang-terangan Tolak Dukung Program Ketua Umum Gerindra
 Masyarakat Kepulauan Meranti Diimbau Gunakan Energi Secara Bijak
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Borong 12 PROPER Hijau
Hukum
Berkat Inovasi dan Konsistensi Penjagaan Mutu, Kilang Dumai Borong Penghargaan Laboratory Awards 2025 
Marwas: Suruh Aja Orang Agrinas Tu Panggil CV Tiga Bintang Sinergi
Ketika di Klarifikasi, Pimpinan BRI Yang Bersangkutan Justru Telah Dimutasi ke Wilayah Lain
Pengucuran Kredit Bank BRI Ke Kelompok Tani di Pelalawan Sarat Kejanggalan
Nasional
Kemenko Polkam Gelar Rakor Penguatan Literasi Digital dan Implementasi Kebijakan Media (BEJO'S) Bagi ASN-TNI-POLRI
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional
Program SIGAP Bentuk ASN Yang Tangguh dan Profesional

Jumat, 14 November 2025 | 10:25:44 WIB
Tiga Angkatan Sekaligus, Balai Pelatihan SDM Pencarian dan Pertolongan Buka Diklat Dasar SAR 
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 

internasional
Enam Unit F-35 Lightning II RAAF Perkuat Elang Ausindo 2025 di Lanud Roesmin Nurjadin 
 16.000 Warga Palestina Jadi Korban, WHO Tegaskan Kondisi di Gaza Semakin Memburuk Setiap Jamnya
Tolak Hamas Berkuasa di Gaza, Wakil Presiden Amerika Kritisi Banyaknya Warga Palestina Yang Tewas
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata
Israel dan Hamas Perpanjang Gencatan Senjata

Kamis, 30 November 2023 | 13:41:36 WIB
olahraga
Batalkan Musorprov, KONI Pusat Perpanjang Masa Jabatan Pengurus KONI Riau hingga September 2026
Tiga Anggota TPP Labrak Aturan dan Arahan KONI Pusat, Fahmi: Tindakan Mereka Ilegal!!!
Kantongi Dukungan Tiga KONI, Rahmad Aidil Fitra - Ketua Umum HAPKIDO Riau Siap Pimpin KONI Riau
Tampil Tanpa Target, SSB All Stars U13 Tambah Menit Bermain Pemain

Popular
News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Daerah
"Golkar Riau, Hegemoni atau Rekonsiliasi "
opini | Senin, 2 Juni 2025 | 16:41:10 WIB
Editor : masyuki | Penulis : Ricky Rahmadia
SF Haryanto - Parisman Ihwan dalam sebuah kesempatan

DI BALIK perebutan kursi Ketua Golkar Riau, terdapat dinamika politik yang mencerminkan lebih dari sekadar ambisi personal. 

Ini adalah soal hegemoni, rekonsiliasi elit, dan masa depan stabilitas politik di Bumi Lancang Kuning. 

Dua nama mengemuka, SF Hariyanto, Wakil Gubernur Riau yang merepresentasikan gerbong Rusli Zainal, dan Parisman Ikhwan, Wakil Ketua DPRD Provinsi Riau dari gerbong Syamsuar. 

Keduanya adalah simbol dari dua matahari Golkar Riau yang selama ini berotasi dalam orbitnya masing-masing.

Narasi di permukaan tampak seperti kontestasi elite biasa. Namun, jika dicermati lebih dalam, ini adalah duel antara dua gerbong besar yang telah menjadi tulang punggung kekuasaan Golkar di Riau. 

Gerbong Rusli Zainal, dengan jaringan akar rumput dan loyalis lama, kini mendapat semangat baru melalui SF Hariyanto.

Di sisi lain, gerbong Syamsuar dengan Parisman Ikhwan sebagai garda depan membawa nafas kekuasaan yang masih segar, menyimpan kapital elektoral dan struktural yang luas.

Jika keduanya bersatu, bukan tidak mungkin Golkar Riau akan kembali pada kejayaan sebagai penguasa Riau. Tetapi seperti biasa, persoalannya bukan sekadar kekuatan, melainkan siapa yang mau menundukkan ego terlebih dahulu.

Skenario kompromi tampaknya sederhana namun sangat strategis dan harusnya menjadi pilihan lain dari scenario pertikaian. SF Hariyanto bisa diplot sebagai ketua DPD Golkar Riau, membawa legitimasi dari posisi strukturalnya di eksekutif sebagai Wakil Gubernur. 

Parisman Ikhwan diplot sebagai Sekretaris yang akan mengokohkan kontrol legislatif. Ini bukan pembagian jabatan semata, tetapi penggabungan dua jalur kekuasaan, eksekutif dan legislatif.

Jika ini terjadi, Golkar tidak hanya akan mempertahankan statusnya sebagai partai penguasa  Riau, tetapi dengan tegas menyatakan, siapun yang menang di Riau, Golkar lah pemenangnya.

Pembagian teritorial kekuasaan bisa berjalan simetris antara gerbong Rusli Zainal menjaga basis di Riau 2, sementara gerbong Syamsuar meneguhkan dominasi di Riau 1, yang merupakan kantong suara strategis. 

Dengan jalan kompromi, maka peluang Golkar menjadi lebih besar makin terbuka.

Politik tak semudah itu Ferguso??! Memang tak mudah menyatukan dua kutub yang berseberangan, tetapi dalam politik menganut Teori “tidak ada yang tidak mungkin”.

Meminjam teori Antonio Gramsci, dalam politik, pertarungan antar elit bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling mampu membangun konsensus. 

Karena dalam banyak peristiwa, kekuasaan yang bertahan lama bukan didirikan diatas dominasi, melainkan diatas kesepahaman bersama.

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid?

Bagaimana dengan Gubernur Abdul Wahid? Banyak yang melihat SF Hariyanto sebagai potensi ancaman, apalagi jika menguasai Golkar. 

Tanpa dan dengan Golkar, SF Hariyanto adalah ancaman tersendiri bagi Gubernur berkuasa, dengan melihat sejarah Riau sendiri pasca pemilihan langsung pertikaian Gubernur dan Wakil Gubernur kerap terjadi dan hampir tak ada yang bisa sejalan hingga ke ujung. 

Namun dalam logika politik Indonesia yang pragmatis, ancaman bisa dihaluskan dengan keterlibatan. 

SF Hariyanto bukan aktor baru dalam orbit Abdul Wahid. Bahkan, ada irisan politik dan history diantara keduanya. 

Istri SF Hariyanto, Adrias, adalah kader PKB yang juga anggota DPRD Riau, yang bisa menjadi kunci dan penghubung mencairkan kebuntuan. 

Maka daripada menghabiskan energi untuk konflik, akan lebih rasional bila SF diberi “mainan politik” yang justru membuatnya sibuk dalam koridor partai. Dan setiap tindakannya ada Partai sebagai corong dan ruang yang masih bisa dinegoisasikan.

Pertarungan ini bukan hanya soal Ketua Golkar Riau. Ini adalah persoalan tentang stabilitas pemerintahan daerah dan keberlangsungan program pembangunan di tengah defisit anggaran dan penghematan pemerintah pusat. 

Kita tidak bisa menutup mata bahwa politik adalah mesin mahal. Dan ketika elit politik Riau memilih untuk berperang, maka biaya itu akan ditransfer secara tak langsung kepada publik melalui stagnasi pembangunan, lewat APBD yang tersandera tarik-menarik kepentingan.

Disamping itu, Jakarta sebagai pemilik hegemoni daerah justru semakin senang dengan sengitnya pertarungan perebutan Ketua Golkar, semakin sengit berarti didalam nya ada “duit”. 

Dalam filsafat Sun Tzu, “kemenangan tertinggi adalah menang tanpa bertempur”. Ini yang seharusnya dituju oleh para elite di Riau. Bersatu dalam keragaman gerbong, dan menyatukan kekuatan demi stabilitas. 

Rekonsiliasi ini bukan hanya urusan elit, tapi menyangkut nasib jutaan masyarakat Riau.

Jika SF Hariyanto dan Parisman Ikhwan bisa menundukkan ego, jika Abdul Wahid mau membuka kanal komunikasi lebih inklusif, dan jika Golkar mampu tampil sebagai jembatan, maka Riau tidak hanya akan tenang secara politik, tapi akan menjadi model rekonsiliasi politik yang harus mendapat tempat dan hormat. Roda pemerintahan dan pembangunan pun akan berjalan jauh lebih baik. 

Politik dan ekonomi adalah dua sisi dari realitas social yang saling mempengaruhi, APBD yang stagnan dan elite yang terpecah adalah hambatan ganda bagi Pembangunan Riau. 

Pekanbaru, 1 Juni 2025
Penulis: Ricky Rahmadia
Penggiat Diskusi Publik di Riau

TERKINI
Penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya tetap berjalan optimal guna.
Minggu, 17 Mei 2026 | 08:29:06 WIB
Asumsi kader partai harus tegak lurus dengan kebijakan Pengurus Pusat Partai Politik, ternyata.
Jumat, 24 April 2026 | 21:10:04 WIB
Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) menegaskan komitmennya dalam.
Jumat, 10 April 2026 | 14:36:05 WIB

Pertamina Patra Niaga kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih penghargaan dalam.

Rabu, 8 April 2026 | 22:00:00 WIB
PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Fuel Terminal (FT) Krueng Raya meresmikan.
Selasa, 7 April 2026 | 06:10:32 WIB